KAMMI

KAMMI
KOMISARIAT UNSWAGATI CIREBON

Jumat, 11 Juli 2014

Manajemen Aksi



MANAJEMEN AKSI
Merumuskan Formulasi Gerakan Mahasiswa, Aksi Sebagai Kekuatan Kontrol Moral dan Sosial1
Oleh: Wahyu Minarno2
Hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Islam sebagaimana engkau adalah hanief (cenderung kepada kebenaran). Itulah fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu”
(QS Ar-Rum : 30)
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”
(QS Ali ‘Imron : 110)
Hidup adalah ikhlas dalam berfikir maupun bertindak, itulah aktualisasi tauhid”
(WM)
Mahasiswa merupakan salah satu dari beberapa kekuatan inti perubahan. Selain masyarakat yang di dalamnya terdapat petani, buruh serta para begundal pemerintahan yang mengabdikan diri kepada berhala neoliberalisme, mahasiswa adalah analis, fasilitator dan konsolidator sekaligus provokator dalam menjaga kedinamisan berjalannya Negara (pemerintahan). Oleh karena itu, untuk mengatasi berbagai persoalan yang muncul sebagai dampak dari salah satu bentuk ketidakpatuhan terhadap hukum objektif masyarakat (kesetaraan, keadilan, kesejahteran rakyat, dll), dibutuhkan sebuah formulasi gerakan sebagai konsep sekaligus secara teknis dapat menjadi pengawal utama berjalannya pemerintahan Indonesia. Dalam konteks ini, tokoh kuncinya adalah mahasiswa. Tentu saja bukan mahasiswa yang tidak hanya diam dalam melihat adanya penindasan terhadap kaum yang lemah.
Namun kita tidak akan mendiskusikan hal idealis di atas. Kita akan lebih menitiktekankan diskusi kita kali ini mengenai upaya-upaya apa sajakah yang mesti dilakukan oleh mahasiswa bersama masyarakat dalam mewujudkan perubahan sosial yang berkeadilan. Seringkali kita menyaksikan berbagai bentuk demonstrasi atau aksi yang dilakukan oleh mahasiswa, buruh, petani maupun kelompok masyarakat lain. Apakah sebenarnya aksi itu, bagaimana dan untuk tujuan apa aksi harus dilakukan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut marilah kita carikan jawabannya bersama-sama dalam diskusi kali ini.
Pengantar sederhana mengenai manajemen aksi
Manajemen Aksi merupakan sebuah system dan mekanisme (persiapan, masa waktu aksi, evaluasi serta tindak lanjut) yang jelas serta kongkret dalam sebuah aksi, baik massa maupun kelompok. Manajemen Aksi meliputi beberapa hal yang sangat penting, di dalamnya terdapat beberapa tahapan yang kesemuanya tidak dapat dinilai sederhana. Jadi yang dimaksud dengan manajemen aksi tidak sebatas sisten dan pengaturan serta perencanan persiapan pada saat melaksanakan aksi saja (yang selama ini hanya difahami sebagai persiapan untuk melakukan demonstarsi saja), namun merupakan sebuah formula yang utuh dan komprehensif, menyeluruh dan tidak parsial
Demonstrasi dan Aksi
Secara substansial, antara demonstrasi dan aksi memiliki makna yang sama. Hanya saja akan lebih halus dengan menggunakan kata aksi daripada demonstrasi. Sebab kata demonstrasi lebih memiliki persepsi negative, selalu diidentikkan dengan hal yang berbau kekerasan dan anarkhis (bakar-bakaran, menghancurkan gedung, penjarahan, dll). Meskipun demonstrasi tidak selalu seanarkhis seperti yang dibayangkan oleh banyak anggota masyarakat.
Tujuan Aksi
Salah satu bentuk penyampaian aspirasi kepada pemerintah serta penyampaian pesan kepada masyarakat adalah dengan melakukan aksi massa. Dalam negara yang berdemokrasi, aksi menjadi cara yang dilegalkan, oleh karena itu lembaga pendidikan seperti universitas juga harus berperan sebagai guardian of value dari pemerintah serta masyarakat. Mengapa cara yang dipilih adalah aksi ? karena aksi berdampak pada dua sisi, yakni sisi ketersampaian pesan kepada pihak yang diinginkan serta penyadaran masyarakat atas sebuah isu. Sehingga aksi masih menjadi cara yang relevan untuk dilakukan.
Tahapan-tahapan dalam aksi
Dalam melaksanakan aksi, harus mempertimbangkan beberapa hal penting. baik perangkat yang mesti dipersiapkan maupun tahapan-tahapan yang harus dilalui bersama. Aksi memiliki beberapa tahapan yang harus dilalui, antar lain:
  1. Pra Aksi, Persiapan yang dilakukan sebelum dilaksanakannya aksi tidak selalu dapat ditentukan dengan pasti berapa lam waktu yang dibutuhkan. Hal demikian lebih bersifat fleksibel. Di sini kita akan membahas beberapa persiapan penting sebelum aksi.
  1.  
    1. Persiapan dan pematangan issue
Mahasiswa harus memiliki kekuatan dalam pemikiran, termasuk dalam isu yang akan angkat, kaji sebuah isu dengan mendalam serta didukung data yang akurat agar pesan dan tuntutan yang disampaikan berbobot dan jelas, buat semacam focus group discussion dengan beberapa mahasiswa untuk menentukan dan memantapkan isu.
  1.  
    1. Membuat press release
Berisikan pesan dan tuntutan dari isu yang telah dibahas, sebisa mungkin pesan yang akan disampaikan terfokus dan jangan melebar jauh.
  1.  
    1. Mengumpulkan massa (estimasi)
Aksi membutuhkan massa, dan salah satu parameter keberhasilan aksi adalah semakin banyaknya massa yang hadir dalam aksi, semakin banyak massa yang hadir akan menjadi force power tambahan bagi kita untuk menunjukkan bahwa banyak orang yang telah memahami isu yang dibawa dan turut berperan dalam menyuarakan isu tersebut. Banyak cara yang dapat dilakukan dalam mengumpulkan massa. Yang lebih penting adalah bagaimana semua faham tentang issu yang diangkat, sehingga massa yang ikut tidak hanya ikut-ikutan saja, tanpa memahami substansi issue yang diangkat.
  1.  
    1. Menghubungi media
Sangat dibutuhkan keberadaan media massa. Meskipun media massa memiliki “hidung” yang tajam, namun kita harus tetap harus menghubungi media. dengan demikian aksi yang dilakukan dapat dimuat dan lebih tersosialisasikan secara maksimal. Disamping media juga dapat dijadikan sebagai kontrol dalam meminimalisir tingkat represifitas aparat.
  1.  
    1. Mempersiapkan perangkat aksi
Perangkat aksi yang dibutuhkan antara lain ; spanduk atau baligo berisi pesan aksi, bendera lembaga yang mengusung aksi, press release untuk masyarakat luas,perangkat dokumentasi, poster untuk dibawa oleh peserta aksi, media publikasi tambahan untuk dibagikan ke masyarakat seperti leaflet atau pamflet, pengeras suara seperti TOA dan mobil sound system, dan identitas peserta aksi untuk memastikan aksi tidak disusupi, identitas ini seperti pengikat kepala atau jaket. Selain itu sebagai dinaminasi bisa juga disiapkan yel-yel atau lagu selama aksi yang berisikan pesan perjuangan mahasiswa dan pesan dari isu aksi yang dijalankan. Aksi teatrikal untuk menambah menariknya aksi bisa juga dilakukan.
  1.  
    1. Skenario dan pembagian peran
Menentukan arah dan rute aksi serta apa saja yang akan dilakukan. Pembagian peran diantara inisiator perlu juga dilakukan, siapa yang akan sebagai komandan lapangan, humas, P3K, dinamisator, orator, dan pengdokumentasi. Adanya pembagian peran ini diharapkan dapat membuat aksi terarah dan tertib.
  1.  
    1. Menghubungi pihak kepolisian untuk perizinan
Hal ini dilakukan supaya pihak aparat mengetahui dan melakukan pengaman ketika aksi dilaksanakan.
  1. Saat Aksi, merupakan tahapan aktualisasi dan perjuangan, karena segala sesuatu dapat berubah ketika sudah di lapangan, oleh karena itu peran koordinator lapangan sangat dibutuhkan agar segala sesuatu berjalan dengan baik. Banyak hal yang tidak terduga, seperti jadwal aksi yang tidak tepat waktu, massa yang tidak sesuai target, logistik aksi yang telat tiba, dan lainnya. Apapun yang terjadi di saat aksi, Don’t give up, go ahead. Beberapa hal yang biasa dilakukan selama berlangsungnya aksi antara lain:
  1. Membagikan pesan yang telah dibuat, seperti pamflet dan leaflet.
  2. Berorasi dalam perjalanan dan di tempat tujuan akhir, orasi adalah bagian dari penyampaian pesan aksi kepada masyarakat luas.
  3. Yel-yel dan menyanyikan lagu. Sebagai penyemangat massa aksi dan mendominasi/menguasai suasana/keadaan (situasi dan kondisi).
  4. Audiensi ke pihak yang dituju, dilakukan oleh perangkat aksi yang telah ditunjuk, negosiator maupun yang jago dalam beraudiensi.
  5. Pembacaan press release. Hal ini biasanya dilakukan pada akhir aksi dan diharapkan dapat diliput media agar pesan yang kita bawa dapat tersampaikan kepada khalayak luas.
  1. Pasca Aksi, Langkah terakhir dari aksi adalah pemulangan peserta, biasanya aksi tidak bubar di tempat dibacakannya press release untuk menimbulkan kesan “bubar setelah aksi”, biasanya peserta berjalan kembali ke tempat lain, baru membubarkan diri di tempat tersebut. Setelah aksi selesai, sebisa mungkin diadakan evaluasi aksi terkait ketersampaian pesan dan evaluasi teknis untuk menentukan langkah selanjutnya terkait perjuangan isu atau pesan yang disampaikan.
  1. Absensi, sebagai pemastian terhadap jumlah peserta aksi yang terlibat selama pelaksanan aksi. mengingat sering terjadinya kasus penangkapan bahkan penculikan terhadap beberapa aktifis tanpa alasan yang jelas.
  2. Evaluasi, untuk mengetahui sejauh mana tingkat keberhasilan dari aksi yang sudah dilaksanakan. Selain merupakan media dalam mengetahui kekurangan dan kelemahan aksi, juga sebagai bahan dalam melaksanakan analisa SWOT untuk aksi mendatang.
  3. Rekomendasi, dari hasil-hasil yang telah dicapai melalui aksi dapat dikerangkakan menjadi sebuah masukan untuk gerakan yang akan dilaksanakan selanjutnya.
Kondisi lapangan
Pada saat melaksanakan aksi, situasi dan kondisi di lapangan sangat tidak mudah untuk dipastikan. Bisa saja sesuai tepat dengan apa yang sudah direncakanan, namun terkadang seringkali terjadi chaos (bentrok). Bentrok seringkali terjadi dengan aparat kepolisian maupun kelompok lain yang kontra terhadap aksi yang kita laksanakan. Namun hal ini bukan berarti hal yang harus ditakuti. Oleh karena itu sangat dibutuhkan kemampuan dalam mengadaptasikan diri terhadap situasi dan kondisi yang mungkin akan terjadi. Selain itu, pengintegrasian terhadap segala hal secara hati-hati juga dibutuhkan. Dalam artian, massa aksi khususnya coordinator umum dan coordinator lapangan harus mampu menentukan sikap terhadap situasi serta kondisi yang demikian. Sehingga massa aksi tidak cair dengan begitu saja

LPJ Kaderisasi 2013/2014



    LAPORAN PERTANGGUNG JAWABAN DEPARTEMEN KADERISASI
KESATUAN AKSI MAHASISWA MUSLIM INDONESIA (KAMMI)
KOMSARIAT UNSWAGATI CIREBON
2013 - 2014



 
Bismillahirohmanirrohim
A.     PENDAHULUAN

Assalamualaikum Wr.Wb.
Puji dan syukur senantiasa tercurah limpahkan kepada cinta sejati seluruh makhluk, pencipta seisi langit dan bumi, ALLAH SWT. Allamdulillah, berkat rahmat dan hidayahnya kita dapat bertemu dimusyawarah komsat (muskom). Sholawat dan salam kerinduan teruntuk aktifis dakwah sejat, sang revolusioner peradaban, Rasulullah SAW beserta keluarga dan para sahabat beliau semoga tersampaikan. Semoga kita semua, para penerus risalah beliau tetap istiqomah menalankan manah dakwah.
Amin.
            Setiap amanah akan diminta pertanggungjawabannya. Begitupun kini kami yang telah diamanahi menjadi pengurus bidang kaderisasi KAMMI Komsariat Unswagati tentunya juga harus memberi pertanggungjawaban atas amanah tersebut.
            Kaderisasi, bagaimana telah diketahui bersama adalah jantung, denyut nadi organisasi, ketika ia tak berdenyut, maka roda organisasi pun akan terhambat. Maka, kami berupaya untuk tetap menghidupkannya walaupun masih banyak kekurangan yang terasa.
            Kami menyadari begitu banyak kekurangan yang ada selama kepengurusan kami.bagaimanpun tidak ada yang sempurna didunia ini,tak ada gading yang tak retak. Karena itu, kami mohon maaf atas segala kekurangan yang ada. Melalui muskom kali ini, kami berharap semoga laporan pertanggungjawaban ini dapat menjadi pelajaran dan evaluasi untuk perbaikan kedepannya.
            Akhirul kalam, kami ucapkan jazakumullah khairon katsiron kepada sluruh pengurus dan pihak-pihak yang telah membantu dalam menunaikan amanah dakwah ini.

B.     NILAI STRATEGIS
Kaderisasi merupakan suatu bidang yang menepati posisi dan nilai yang sangat penting. Sebagaiana disampaikan di awal, kaderisasi merupakan denyut nadi, jantung organisasi. Sehingga sudah jelas nilai strategisnya.
Organisasi sebesar dan sehebat apapun akan hancur apabila kaderisasinya tidak bergerak sebagaimana mestinya. Bagaimana kondisi internal suatu oranisasi ditentukan juga dari bagimana kondisi kaderisasi organisasi tersebut.

C.     STRUKTUR KEPENGURUSAN

No
Nama
Fak/Jur
Angkatan
Jabatan
1
Roysmanto
FKIP / B. Inggris
2011-2012
Kadept.
2
Rahmawati
FKIP / B. Inggris
2010-2011
Sekretaris



D.     KONDISI RIIL INTERNAL
Kondisi internal kaderisasi tidak dapat dipungkiri bahwa antara pengurusnya kuransolid. Hal tersebut dikarenakan mayoritas dari kami belum memehami sepenuhnya dari tugas-tugas dan alur kaderisasi sehingga mengakibatkan sebagiannya berguguran dijalan dakwah (tidak aktif). Selain itu, kondisi tersebut juga diperparah karena hapir seluruh pengurusnya double amanah. Dan hal tersebut cukup menghambat gerak kaderisasi dalam melaksnakan program kerja yang sudah disusun.

No
Program kerja
realisasi
Qodhoya
Keterangan
1
Taaruf kader
Terlaksana  
-konsep yang kurang matang
-persiapan publikasi yang kurang ( pamflet, selebaran dll)
-tidak semua kader dapat hadir
21 Maret 2013
2
DM I Tahap I
Terlaksana
-Keterbatasan Panitia
-Persiapan Kurang
-kurangya pendanaan
27-28 September 2013
3
DM I Tahap II
Tidak Terlaksana
-Komunikasi kurang efektif
-keterbatasan panitia
-Kesibukan kader

4
MK I
Terlaksana
-kendala menentukan waktu MKI
-kesibukan kader

2 pekan sekali
5
Training Jurnalistik
Dan Public Speaking
Tidak Terlaksana
-Waktu tidak memungkinkan

6
Mabit
Tidak terlaksana
-kesibukan kader
-keterbatasan waktu
3 pekan sekali


E.     ANALISIS SWOT
ü  Strength (Kekuatan)
-         Departemen yang memiliki posisi strategis
-         Memiliki peranan yang sangat penting bagi organisasi
-         Memiliki hak pengelolaan kader
-         Mengetahui seluk beluk kader lebih dalam dibandingkan dengan departemen lainnya
-         Memiliki Manhaj 1427 H, sebagai pedoman pengkaderan

ü  Weakness (Kelemahan)
-         Masih adanya anggota kaderisasi yang belum kokoh dalam aspek tarbiyahnya
-         Anggota kaderisasi belum benar-benar memahami seluk beluk kaderisasi
-         Kader yang memiliki lebih dari satu amanah
-         Terbatasnya jumlah kader
ü  Opportunity (Peluang)
-         Posisi strategis dan peran penting yang tidak dimiliki departemen lainnya
-         Masih adanya kader-kader yang keder dengan qodoya pribadinya
-         Masih adanya minat mahasiswa Unswagati untuk memperdalam keagamaan dan berorganisasi
ü  Threat (Ancaman)
-         Kader KAMMI banyak yang belum terbina
-         Pemahaman tentang organisasi pergerakan belum optimal
-         Kurangnya minat membaca Kader

F.     REKOMENDASI
-         Utamakan Kader yang paham tentang pengkaderan di tempatkan di Departemen Kaderisasi
-         Perbaiki Pengelolaan Tarbiyah
-         Harkom (Hari Komunikasi) rutin bagi semua Kader KAMMI
-         Rekrut Calon Kader yang tidak mengikuti organisasi lain agar Fokus.









G.  PENUTUP
Alhamdulillah, kami sudah menyelesaikan Laporan Pertanggung Jawaban dari Departemen Kaderisasi selama periode 2013-2014. Semoga dapat menjadi evaluasi bagi kita bersama dan tentunya memberikan semangat untuk perbaikan kaderisasi ke depannya.
Afwan jidan untuk segala kekhilafan dan kekurangan yang kami lakukan baik secara sengaja ataupun tidak telah melukai hati ikhwah fillah sekalian. Semoga kaderisasi dapat terus memberikan denyutnya terhadap gerak dakwah ini.
Wassalammu’alaikum Wr. Wb.




Cirebon,
Kadep. Kaderisasi,




Roysmanto
Sekretaris,




Rahmawati